: :

Navbar Bawah

Kosong

Search This Blog

Memuat...

Kamis, 16 Februari 2012

Petani dan Cangkulnya

Ada seorang petani dengan cangkulnya membajak sawah setiap hari. Selama bertahun-tahun waktunya dihabiskan dengan mencangkul tanah. Dia melakukan pekerjaannya dengan rajin sehingga memperoleh hasil cukup bagus.
Pada suatu hari ada seorang kultivator datang ke rumahnya meminta derma. Kultivator ini kelihatan hidup dengan bebas dan bahagia, maka didalam hati petani ini timbul niat untuk berkultivasi.
Setelah pulang kerumahnya, dia bertekad akan melepaskan segalanya, seperti kultivator ini hidup bebas bahagia. Setelah keluar dari rumahnya, dia merasa kedua tangannya kosong sangat tidak terbiasa.
Setiap hari dia senantiasa membawa cangkulnya keluar bersamanya, sekarang melepaskannya seperti merasa ada sesuatu yang hilang. Akhirnya dia masuk kembali ke dalam rumahnya, mengangkat cangkulnya melihat dari atas sampai kebawah, dari bawah sampai ke atas, cangkul ini dipergunakan setiap hari oleh sebab itu kelihatannya sangat mengkilat. Untuk meninggalkannya sungguh tidak terbiasa, setelah berdiri dia kembali terduduk, dan mengelus-elus cangkulnya itu.
Lalu dia membersihkan cangkul itu sampai bersih mengkilat, membungkusnya dengan kain yang berlapis-lapis, meletakkan disuatu tempat yang istimewa. Pada saat ini dia merasa hatinya agak tenang, dia lalu keluar dari rumahnya, masuk ke biara menjadi bhiksu.
Petani ini setelah menjadi kultivator hatinya sangat teguh berkultivasi, tetapi setiap dia melihat hamparan padang rumput yang hijau, hatinya selalu teringat kepada cangkulnya. Dia selalu tanpa bisa menahan hatinya lari pulang kerumahnya membuka bungkusan kain, mengelus-elus cangkulnya, kemudian dibungkus kembali kemudian pulang kembali ke biara.
Setelah berkultivator selama 7-8 tahun, dia lalu berpikir, “Kenapa begitu lama saya berkultivasi sudah beberapa tahun, tetapi masih belum mendapat apa-apa?
Setelah dipikirkan dia menyadari bahwa adalah sesuatu keterikatan yang sangat besar yang belum bisa dia lepaskan! Dia bertekad akan melepaskan keterikatan ini, lalu dia pulang kerumahnya, mengambil cangkulnya membawanya ke sebuah danau yang sangat besar, dia mengelilingi danau ini beberapa kali, lalu dengan sekuat tenaganya membuang cangkul itu ke dalam danau. Beban dihatinya bagaikan batu yang besar juga terasa lepas begitu saja.
“Saya sudah berhasil!, saya  telah menang!” Dia berteriak dengan gembira.
Pada saat itu kebetulan ada seorang raja dengan para panglima dan prajurit yang menang perang melewati danau. Dari jauh raja sudah mendengar petani yang berteriak dengan gembira itu. Raja yang berada diatas pelana kudanya, lalu mendekatinya dan bertanya kepadanya.
“Engkau memenangkan apa, kenapa demikian gembira?” tanya Raja.
“Saya bisa memenangkan iblis didalam hati saya, saya telah melepaskan semua keterikatan di dalam hati saya,” jawab petani kultivator itu.
Raja melihat dia demikian gembira, benar-benar kegembiraan yang terlepas dari dasar hatinya, bebas bahagia, lalu dia memikirkan keadaan dirinya sendiri, saya mempunyai kekuasaan yang demikian besar, membawa pasukan yang sangat besar, memenangkan peperangan, tapi apakah saya merasa senang, apakah hati saya merasa tenang?
Dia berpikir dia tidak seberuntung kultivator ini, oleh sebab ini raja sangat salut kepada kultivator ini, dia beranggapan dapat mengalahkan iblis didalam hati diri sendiri, ini barulah bisa menjadi orang suci sejati, sedangkan mengalahkan musuh hanyalah duniawi. (Erabaru/hui)

0   komentar

Cancel Reply